BAB 1
PENDAHULUAN
1.1
LATAR BELAKANG
Paleontologi berasal dari kata, paleo : masa lampau / kuno
Onthos : kehidupan
Logos : ilmu
Jadi paleontology
adalah ilmu yang mempelajari kehidupan di masa lampau atau ilmu yang
mempelajari tentang fosil dan cara hidup makhluk hidup.
Ilmu paleontology sangat penting bagi
geologi dalam penentuan umur batuan dan lingkungan pengendapan.
Dalam laporan ini
penulis mencoba menganalisis makhluk hidup dan fosil yang terbagi atas beberapa
phylum dan sub phylum.
Oleh karena itu dalam
laporan ini akan membahas peranan makhluk hidup dan hewan yang telah menjadi
fosil.
1.2
TUJUAN
·
Agar kita bisa menganalisis
fosil
·
Kita dapat menetahui dari
mana fosil itu berasal
·
Dan kita bisa mengetahui
pada masa – masa fosil tersebut hidup
1.3
ALAT DAN BAHAN
·
Alat
Ø Alat tulis
Ø Lembar deskripsi
·
Bahan
Ø Hewan vertebrata
Ø Hewan invertebrata
1.4
PROSEDUR KERJA
·
Mengambil atau mencari hewan
yang akan di deskripsi.
·
Mendeskripsikan hewan yang
telah kita temukan
·
Dokumentasikan dan
digambarkan hewan maupun fosil yang telah di deskripsi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 PALEONTOLOGI
Paleontologi
adalah ilmu yang mempelajari tentang sejarah kehidupan di bumi termasuk hewan
dan tumbuhan zaman lampau yang telah menjadi fosil.
Paleontologi adalah Orang yang mengeluti bidang Paleontologi
Paleontologi berasal dari bahasa yunani, yaitu paleon yang berarti tua atau yang berkaitan dengan masa lalu ontos berarti kehidupan dan logos yang berarti ilmu atau pembelajaran, atau di pihak lain menyebutkan bahwa paleontology adalah juga paleobiologi ( paleon = tua, bios = hidup, logos = ilmu ) jadi paleontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang sejarah.
Paleontologi adalah Orang yang mengeluti bidang Paleontologi
Paleontologi berasal dari bahasa yunani, yaitu paleon yang berarti tua atau yang berkaitan dengan masa lalu ontos berarti kehidupan dan logos yang berarti ilmu atau pembelajaran, atau di pihak lain menyebutkan bahwa paleontology adalah juga paleobiologi ( paleon = tua, bios = hidup, logos = ilmu ) jadi paleontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang sejarah.
2.2 INVERTEBRATA
Invertebrata
adalah organisme yang paling berlimpah di bumi. Mereka menempati hampir semua
habitat, mereka dapat ditemukan merayap, terbang, berenang atau mengambang.
Invertebrata adalah hewan tanpa tulang punggung. Hewan ini tidak memiliki
kerangka internal yang terbuat dari tulang. Invertebrata memainkan peran
penting dalam ekosistem bumi.

Gambar 2.1 hewan invertebrata
Sekitar
99 persen dari organisme yang dikenal adalah invertebrata. Didalam planet ini
diperkirakan 15-30000000 spesies sekitar 90% dari binatang adalah invertebrata.
Invertebrata datang dalam berbagai bentuk dan ukuran dan memberikan layanan
yang sangat penting untuk kelangsungan hidup kita. Invertebrata yang paling
umum termasuk spons, Annelida, echinodermata, moluska dan arthropoda.
Arthropoda meliputi serangga, krustasea dan arakhnida.
2.1.1 PORIFERA
A.
Pengertian Porifera
Porifera dalam bahasa latin, kata Porus berarti
Pori dan Fer berarti membawa. Porifera adalah hewan multiseluler (metazoa) yang
paling sederhana. Hewan ini memiliki ciri umum, yaitu tubuhnya berpori seperti
busa atau spons sehingga porifera disebut juga sebagai hewan spons.
B.
Ciri-ciri Porifera
1. Sudah merupakan Metazoa (Metazoa tingkat
rendah), (Metazoa = hewan bersel banyak), sebab walaupun tubuhnya sudah berdiri
dari banyak sel tetapi jaringan tubuhnya masih sederhana karena :
a. Belum mempunyai organ tubuh yang khusus
b. Belum mempunyai sistem saraf
Yang menanggapi rangsang adalah sel-sel individual.
c. Belum mempunyai saluran pencernaan makanan yang khusus.
Pencernaan makanan secara intra seluler (pencernaan makanan dalam sel) karena masih intraseluler maka disebut Parazoa.
2. Dinding tubuhnya berpori-pori (maka disebut Porifera) dan sudah mempunyai sistem canol.
3. Dinding tubuhnya terdiri dari 2 lapis antara lain :
a. Lapisan luar = epidermis
Tersusun dan dermal-dermal epitelium
b. Lapisan dalam
Tersusun dari Choanocyte = deretan sel leher masing-masing Choanocyle dilengkapi dengan Flogellum diantara 2 lapisan (lapisan dalam dan luar) terhadap zat antara berupa gelotin yang disebut Mesoglea atau Mesenchym.
4. Tubuh dilengkapi kerangka yang berupa Spicula-spicula yang berasal dari :
- Kapur (Ca CO3)
- Silicat (H9 Si3O2)
- Campuran kapur + silikat
Kerangka tersebut terdapat didalam lapisan Mesogles.
5. Tempat hidup
- Dilaut (kebanyakan)
- Air tawar (beberapa)
6. Pada tubuh Porifera terdapat pori-pori sebagai jalan masuknya air yang membawa makanan, kemudian oleh flagela yang ada pada koanosit, zat-zat makanan tadi akan ditangkap dan akan dicerna oleh koanosit atau sel leher. Setelah makanan tercerna, oleh sel amoebosit, maka sari-sari makanan akan diedarkan ke seluruh tubuh. Air yang sudah tidak mengandung zat-zat yang sudah tidak dibutuhkan oleh tubuh akan dikeluarkan melalui oskulum. Di antara lapisan ektoderm dan endoderm terdapat rongga yang disebut mesenkim atau mesoglea tempat dari sel amoeboid dan skleroblast yang merupakan penyusun rangka atau spikula berada. Porifera tidak mempunyai sel saraf. Sel-sel pada Porifera sensitif terhadap rangsang antara lain choanocyt dan myocyt, karena itu gerakan dari flagellum pada choanocyt tergantung pada keadaan lingkungan.
a. Belum mempunyai organ tubuh yang khusus
b. Belum mempunyai sistem saraf
Yang menanggapi rangsang adalah sel-sel individual.
c. Belum mempunyai saluran pencernaan makanan yang khusus.
Pencernaan makanan secara intra seluler (pencernaan makanan dalam sel) karena masih intraseluler maka disebut Parazoa.
2. Dinding tubuhnya berpori-pori (maka disebut Porifera) dan sudah mempunyai sistem canol.
3. Dinding tubuhnya terdiri dari 2 lapis antara lain :
a. Lapisan luar = epidermis
Tersusun dan dermal-dermal epitelium
b. Lapisan dalam
Tersusun dari Choanocyte = deretan sel leher masing-masing Choanocyle dilengkapi dengan Flogellum diantara 2 lapisan (lapisan dalam dan luar) terhadap zat antara berupa gelotin yang disebut Mesoglea atau Mesenchym.
4. Tubuh dilengkapi kerangka yang berupa Spicula-spicula yang berasal dari :
- Kapur (Ca CO3)
- Silicat (H9 Si3O2)
- Campuran kapur + silikat
Kerangka tersebut terdapat didalam lapisan Mesogles.
5. Tempat hidup
- Dilaut (kebanyakan)
- Air tawar (beberapa)
6. Pada tubuh Porifera terdapat pori-pori sebagai jalan masuknya air yang membawa makanan, kemudian oleh flagela yang ada pada koanosit, zat-zat makanan tadi akan ditangkap dan akan dicerna oleh koanosit atau sel leher. Setelah makanan tercerna, oleh sel amoebosit, maka sari-sari makanan akan diedarkan ke seluruh tubuh. Air yang sudah tidak mengandung zat-zat yang sudah tidak dibutuhkan oleh tubuh akan dikeluarkan melalui oskulum. Di antara lapisan ektoderm dan endoderm terdapat rongga yang disebut mesenkim atau mesoglea tempat dari sel amoeboid dan skleroblast yang merupakan penyusun rangka atau spikula berada. Porifera tidak mempunyai sel saraf. Sel-sel pada Porifera sensitif terhadap rangsang antara lain choanocyt dan myocyt, karena itu gerakan dari flagellum pada choanocyt tergantung pada keadaan lingkungan.
Struktur
dan Fungsi Tubuh
Tubuh porifera belum membentuk jaringan dan organ sehingga
porifera dikelompokkan dalam protozoa.Tubuh memiliki banyak pori-pori (ostium)
yang merupakan celah masuknya air ke rongga dalam tubuh yang berukuran lebih
lebar yang disebut spongocoel. Dari spongocoel, air kemudian keluar melalui
oskulum, yang terdapat dipermukaan oral (atas) tubuh.
Struktur anatomi
porifera :
1.
Lapisan luar tubuh (epidermis) terdiri dari selapis sel yang membentuk
celah-celah kecil yang disebut ostium. Sel yang membentuk dan menggerakkan
ostium disebut porosit.
2.
Lapisan dalam (endodermis) terdiri atas sel berbentuk leher yang disebut
koanosit. Koanosit memiliki inti, vakuola dan flagela yang berkaitan dengan
fungsi sel ini sebagai ‘alat’ pencernaan. Pencernaan terjadi di dalam koanosit,
oleh karena itu disebut memiliki pencernaan interseluler.
Antara tubuh bagian luar dan dalam terdapat lapisan tengah
(mesoglea/mesenkim) yang terdiri dari 3 model sel, yaitu amubosit dan
skleroblast dan arkeosit. Dinamakan amubosit merujuk kepada bentuk dan sifat
selnya yang menyerupai bentuk dan sifat amuba, yang mudah berubah bentuk.
Skleroblast menghasilkan rangka yang disebut spikula. Spikula umumnya terbuat
dari mineral kalsium karbonat dan silika, sedangkan yang lain terbuat dari
bahan organik spongin. Sedangkan arkeosit berfungsi dalam reproduksi sel secara
seksual.
Porifera belum memiliki sistem pencernaan yang
sempurna.Pencernaan dilakukan secara sederhana dengan cara menyaring makanan,
berupa plankton dan bakteri, yang terlarut dalam air. Sel yang berperan dalam
proses ini adalah koanosit. Setelah itu, maka tugas selanjutnya, yaitu
mengedarkan makanan dilakukan oleh amubosit. Amubosit pula yang berperan
mengangkut zat sisa pencernaan untuk dibuang.
Cara
Hidup dan Habitat
Porifera hidup secara heterotof. Makanannya adalah bakteri dan
plankton.Makanan yang masuk kedalam tubuhnya berbentuk cairan sehingga porifera
disebut juga sebagai pemakan cairan. Pencernaan dilakukan secara intraseluler
di dalam koanosit dan amoebosit.
Habitat porifera umumnya di laut, mulai dari tepi pantai hingga
laut dengan kedalaman 5 km.Sekitar 150 jenis porifera hidup di ait tawar,
misalnya Haliciona dari kelas Demospongia.
Porifera yang telah dewasa tidak dapat berpindah tempat (sesil),
hidupnya menempel pada batu atau benda lainya di dasar laut. Karena porifera
yang bercirikan tidak dapat berpindah tempat, kadang porifera dianggap sebagai
tumbuhan.
Reproduksi
Porifera melakukan Reproduksi Aseksual maupun
Reproduksi Seksual.
1. Reproduksi secara aseksual terjadi
dengan pembentukan tunas dan gemmule. Gemmule disebut juga tunas internal.
Gemmule dihasilkan hanya menjelang musim dingin di dalam tubuh porifera yang
hidup di air tawar. Porifera dapat membentuk individu baru dengan regenerasi.
2. Reproduksi seksual dilakukan dengan
pembentukan gamet (antara sperma dan ovum). Ovum dan sperma dihasilkan oleh
koanosit. Sebagian besar Porifera menghasilkan ovum dan juga sperma pada
individu yang sama sehingga porifera bersifat Hermafrodit.
C.
Klasifikasi Filum Porifera
Berdasarkan bahan penyusun rangkanya, porifera diklasifikasikan
menjadi tiga kelas, yaitu Hexactinellida atau Hyalospongiae, Demospongiae, dan
Calcarea (Calcisspongiae).
Hexactinellida
Kerajaan : Animalia
Filum
: Porifera
Kelas
: Hexactinellida (Schmidt, 1870)
Sub Kelas : Hexasterophora dan Amphidiscophora
Order :
Amphidiscosida
Order
: Aulocalycoida, Hexactinosa dan Lychniscosa
2.1.2 MOLLSCA
A. Pengertian Mollusca
Mollusca berasal dari
bahasa latin yaitu molluscus yang artinya lunak. Jadi Filum Mollusca adalah
kelompok hewan invertebrata yang memiliki tubuh lunak. Tubuh lunaknya itu
dilindungi oleh cangkang, meskipun ada juga yang tidak bercangkang. Mollusca
yang sudah tidak asing lagi bagi kita adalah siput. Siput merupakan salah satu
mollusca yang termasuk ke dalam kelas gastropoda. yaitu berjalan dengan
menggunakan perutnya.
Mollusca terdiri dari
tiga bagian utama yaitu:
1. Kaki
Kaki merupakan perpanjangan/penjuluran dari bagian Ventral tubuh yang berotot. Kaki berfungsi untuk bergerak. Pada sebagian mollusca kaki telah termodifikasi menjadi tentakel yang berfungsi untuk menangkap mangsa.
Kaki merupakan perpanjangan/penjuluran dari bagian Ventral tubuh yang berotot. Kaki berfungsi untuk bergerak. Pada sebagian mollusca kaki telah termodifikasi menjadi tentakel yang berfungsi untuk menangkap mangsa.
2.
Massa Viseral
Massa viseral adalah bagian tubuh yang lunak dari mollusca. Di dalam massa viseral terdapat organ-organ seperti organ pencernaan, ekskresi, dan reproduksi. Massa viseral dilindungi oleh mantel.
Massa viseral adalah bagian tubuh yang lunak dari mollusca. Di dalam massa viseral terdapat organ-organ seperti organ pencernaan, ekskresi, dan reproduksi. Massa viseral dilindungi oleh mantel.
3.
Mantel
Mantel adalah jaringan tebal yang melindungi massa viseral. Mantel membentuk suatu rongga yang disebut rongga mantel. Di dalam rongga mantel berisi cairan. Cairan tersebut adalah tempat lubang insang, lubang ekskresi dan anus.
Mantel adalah jaringan tebal yang melindungi massa viseral. Mantel membentuk suatu rongga yang disebut rongga mantel. Di dalam rongga mantel berisi cairan. Cairan tersebut adalah tempat lubang insang, lubang ekskresi dan anus.
Sistem syaraf mollusca terdiri dari cincin syaraf. Sistem syaraf
ini mengelilingi esofagus dengan serabut saraf yang menyebar. Sistem pencernaan
mollusca sudah terbilang lengkap terdiri dari mulut, esofagus, lambung, usus,
dan anus. Mollusca juga memiliki lidah bergerigi yang berfungsi untuk
melumatkan makanan. Lidah bergerigi itu disebut radula.
Mollusca hidup secara heterotrof dengan memakan organisme lain.
Misalnya ganggan, ikan, ataupun mollusca lainnya. Mollusca hidup di air maupun
di darat. Mollusca yang hidup di air contohnya sotong dan gurita. Sedangkan
yang hidup di darat contohnya siput. Mollusca yang hidup di air bernafas dengan
insang yang berada pada rongga mantel.
Mollusca bereproduksi
secara seksual. pada umumnya organ reproduksi jantan dan betina pada umumnya
terpisah pada individu lain (gonokoris). Namun, meski begitu jenis siput
tertentu ada yang bersifat Hermafrodit. Fertilisasi dilakukan secara internal
ataupun eksternal sehingga menghasilkan telur. Telur tersebut berkembang menjadi
larva dan pada akhirnya akan menjadi mollusca dewasa.
B. Karakteristik Mollusca
Moluska adalah anggota
dari filum sangat besar dan beragam aminals invertebrata yang dikenal sebagai
mollusca. filum menyediakan beberapa hewan paling akrab, termasuk univalves
(kelas Gastropoda), bivalvia (kelas Bivalvia) dan cephalopoda (kelas
cephalopoda). Filum mollusca juga termasuk kurang dikenal froms menyedot
sebagai Chitons (kelas Polyplacophora) dan gading menjual (kelas Scaphopoda),
antara lain.
The mollusca dari sektor
Antartika dan sub-Antartika Samudra selatan dijelaskan cukup baik, sedikit pun
beberapa 1.200 moluska diidentifikasi dari daerah, yang didominasi oleh
gastropoda diikuti oleh bivalvia (Lince et al. 2006). Sampai saat ini kita tahu
kira-kira tujuh puluh enam morfospesies molluscan dari lima kelas dari wilayah
HIMMI. banyak di antaranya terlalu kecil untuk ditangkap sebagai bycatch dan
hanya taksa yang lebih besar seperti cumi, siput besar atau kerang akan akrab
bagi pengamat. Namun penting untuk membuat pengamat menyadari Divercity moluska
mereka cenderung encounther.
Mollusca adalah hewan
lunak dan tidak memiliki ruas. Tubuh hewan ini tripoblastik { mempunyai 3
lapisan lembaga, yaitu ektoderm (lapisan luar), mesoderm (lapisan tengah) dan
endoderm (lapisan dalam) }, bilateral simetri, umumnya memiliki mantelyang
dapat menghasilkan bahan cangkok berupa kalsium karbonat. Cangkok tersebut
berfungsi sebagai rumah (rangka luar) yang terbuat dari zat kapur misalnya
kerang tiram, siput sawah dan bekicot.(Drs.
Adun Rusyana, M.Pd. : 86)
Cangkok kerang ini
terdiri dari dua belahan, sedangkan cangkok siput berbentuk seperti kerucut
yang melingkar. Perbedaan lainnya, kaki siput tipis dan rata. Fungsinya adalah
untuk berjalan dengan cara kontraksiotot. (Drs.
Adun Rusyana, M.Pd. : 87).
Mollusca mempunyai alat
pencernaan yang sempurna mulai dari mulut yang mempunyai radula (lidah perut)
sampai dengan anus terbuka didaerah rongga mantel. Pernapasan dilakukan dengan
menggunakan insang atau “paru-paru”, mantel atau oleh bagian epidermis. Alat
eksresi berupa ginjal. Sistem syaraf terdiri atas tiga pasang ganglion yaitu
ganglion cerebral, ganglion visceral dan ganglion pedal yang ketiganyadi
hubungkan oleh tali-tali saraf longitudinal. (Drs. Adun Rusyana, M.Pd. : 87).
Ciri-ciri Mollusca:
- Merupakan hewan multiselular yang tidak mempunyai tulang belakang.
- Habitatnya di ait maupun darat
- Merupakan hewan triploblastik selomata.
- Struktur tubuhnya simetri bilateral.
- Tubuh terdiri dari kaki, massa viseral, dan mantel.
- Memiliki sistem syaraf berupa cincin syaraf
- Organ ekskresi berupa nefridia
- Memiliki radula (lidah bergigi)
- Hidup secara heterotrof
- Reproduksi secara seksual
2.2.3 COELENTERATA
A.
Pengertian Coelenterata
Coelenterata berasal dari kata KOILOS
= rongga tubuh atau selom
dan ENTERON = usus. Jadi COELENTERON artinya rongga yang
berfungsi sebagai usus. Coelenterata atau yang juga biasa disebut dengan Cnidaria adalah filum hewan yang memiliki tubuh sangat sederhana. Kata Coelenterata berasal dari kata coelos yang berarti rongga dan enteron yang berarti usus. Jadi, Coelenterata adalah hewan yang memiliki rongga di dalam tubuhnya yang sekaligus berfungsi sebagai organ pencernaan makanan. Coelenterata disebut sebagai hewan sederhana karena jaringan tubuhnya hanya terdiri dari dua lapis sel, yaitu sel internal dan eksternal.
dan ENTERON = usus. Jadi COELENTERON artinya rongga yang
berfungsi sebagai usus. Coelenterata atau yang juga biasa disebut dengan Cnidaria adalah filum hewan yang memiliki tubuh sangat sederhana. Kata Coelenterata berasal dari kata coelos yang berarti rongga dan enteron yang berarti usus. Jadi, Coelenterata adalah hewan yang memiliki rongga di dalam tubuhnya yang sekaligus berfungsi sebagai organ pencernaan makanan. Coelenterata disebut sebagai hewan sederhana karena jaringan tubuhnya hanya terdiri dari dua lapis sel, yaitu sel internal dan eksternal.
Colenterata merupakan hewan yang memiliki rongga. Termasuk
hewan diploblastik, tubuh simetri
radial. Lapisan selnya terdiri dari ektoderm dan endoderm. Antara ekstoderm dan
endoderm terdapat mesoglea. Pada tubuh bagian atas terdapat mulut, yang
dikelilingi tentakel. Pada permukaan tentakel terdapat knidoblas (sel penyengat
/ nematosis). Hidup di air tawar maupun air laut.Tubuhnya dapat melekat pada
dasar perairan.
B.
Ciri-Ciri Coelenterata
·
Habitat di laut, kecuali sejenis hydra hidup di air tawar.
·
Hewan bersel banyak (multiseluler).
·
Sruktur tubuh :
· Radial simetris
· Dipoblastik terdiri
ektoderm dan endoderm
· Terdapat rongga
(mesoglea) antara lapisan ektoderm dan endoderm.
·
Bentuk tubuh :
· menyerupai tabung
(polip)
· menyerupai mangkok
(medusa)
· Di atas tubuh terdapat
mulut dan tentakel untuk menangkap mangsa dan bergerak. Pada lapisan luar
ektodermis tentakel terdapat sel racun (knidoblast) atau sel penyengat
(nematosis)
· Punya rongga
gastrovaskuler untuk pencernaan
· Sistem pernapasan dengan
cara difusi (seluruh permukaan tubuh), kecuali Anthozoa dan Sifonoglia
· Sistem saraf difus
(baur)
· Mengalami siklus hidup (metagenesis).
Dalam siklus hidupnya
pada umumnya Coelentarata mempunyai dua bentuk tubuh, yaitu Polip dan Medusa.
a. Polip adalah bentuk Coelentarata
yang menempel pada tempat hidupnya. Tubuh berbentuk silindris, bagian
proximal melekat dan bagian distal mempunyai mulut yang dikelilingi tentakel.
Polip yang membentuk koloni memiliki beberapa macam bentuk (polimorfisme).
Misalnya : polip untuk pembiakan yang menghasilkan medusa (gonozoid) dan
polip untuk makan yakni gastrozoid.
b. Medusa adalah bentuk ubur-ubur seperti
payung/parasut atau seperti lonceng yang dapat berenang bebas.
C.
Cara
Mendapatkan Makanan
Coelenterata hidup di
perairan yang jernih yang mengandung partikel-partikel organik, plankton atau
hewan-hewan kecil. Jika terdapat hewan kecil, misal jentik nyamuk menempel
pada tentakel dan mengenai sel knidoblast, maka sel tersebut mengeluarkan
racun. Jentik akan lemas lalu tentakel membawanya ke mulut. Di bawah
mulut terdapat kerongkongan pendek lalu masuk ke rongga gastrovaskuler
untuk dicerna secara ekstraseluler (luar sel). Sel-sel endodermis menyerap
sari-sari makanan. Sisa-sisa makanan akan dimuntahkan melalui mulut.
Setiap hewan Coelentarata mempunyai rongga gastrovaskuler. Rongga
gastrovaskuler Coelentarata bercabang-cabang yang dipisahkan oleh
septum/penyekat dan belum mempunyai anus.
D.
Reproduksi Coelenterata
·
Aseksual (Vegetatif)
Dilakukan dengan membentuk kuncup pada
kaki pada fase polip. Makin lama makin besar, lalu membentuk tentakel.
Kuncup tumbuh disekitar kaki sampai besar hingga induknya membuat kuncup
baru. Semakin banyak lalu menjadi koloni.
·
Reproduksi Sexual (Generatif)
Dilakukan dengan peleburan sel sperma
dengan sel ovum (telur) yang terjadi pada fase medusa. Letak testis di
dekat tentakel sedangkan ovarium dekat kaki. Sperma masak dikeluarkan lalu
berenang hingga menuju ovum. Ovum yang dibuahi akan membentuk
zigot. Mula-mula zigot tumbuh di ovarium hingga menjadi larva.
Larva bersilia (planula) berenang
meninggalkan induk dan membentuk polip di dasar perairan. Reproduksi
vegetatif dan generatif pada coelonterata berlangsung secara bergantian,
sehingga coelenterata mengalami pergiliran keturunan/ siklus
hidup/metagenesis.
E.
Klasifikasi Coelenterata
Coelenterata dibedakan menjadi 4 kelas, yaitu :
Hydrozoa, Scyphozoa, Anthozoa dan Ctenophora:
1. HYDROZOA
Hydrozoa berasal dari
kata hydra, artinya hewan yang bentuknya seperti ular. Umumnya hidup soliter atau berkoloni. Soliter
berbentuk polip dan yang berkoloni berbentuk polip dan medusa. Lebih sering ditemukan atau dominan dalam bentuk
koloni polip sedangkan dalam bentuk medusa jarang ditemukan.
Contoh Hydra dan Obellia.
a.
Hydra
· bentuk tubuh Hydra
seperti polip.
· habitat di air tawar.
· ukuran tubuh Hydra
antara 10 mm – 30 mm.
· makanannya berupa
tumbuhan kecil dan Crustacea (udang-uadangan) rendah.
· bagian tubuh sebelah
bawah tertutup membentuk kaki, gunanya untuk melekat pada obyek dan untuk
bergerak.
· terdapat mulut yang
dikelilingi oleh hypostome dan di sekelilingnya terdapat 6 – 10 buah tentakel.
· tentakel berfungsi
sebagai alat untuk menangkap makanan.
· makanan dicernakan di
dalam rongga gastrovaskuler.
· reproduksi aseksual
dengan tunas atau budd kira-kira pada bagian samping tengah dinding tubuh
Hydra.
· Tunas telah memiliki
epidermis, mesoglea dan rongga gastrovaskuler. Tunas tersebut terus
membesar dan akhirnya melepaskan diri dari tubuh induknya untuk menjadi
individu baru.
· reproduksi seksual
:
Terjadi melalui peleburan sel telur (dari ovarium) dengan sperma
(dari testis). Hasil peleburan membentuk zigot yang akan berkembang sampai
stadium gastrula. Kemudian embrio ini akan berkembang membentuk
kista dengan dinding dari zat tanduk. Kista ini dapat berenang bebas dan
di tempat yang sesuai akan melekat pada obyek di dasar perairan. Kemudian bila
keadaan lingkungan membaik, inti kista pecah dan embrio tumbuh menjadi Hydra
baru.
b. Obelia
·
Hidup di air laut secara koloni.
·
Sebagian besar waktu hidupnya sebagai koloni polip.
·
Bagian polip yang berfungsi dalam hal makan disebut hidrant.
·
fase seksual (medusa) disebut gonangium
1. SCYPHOZOA
Scyphozoan, adalah coelenterata yang
bentuknya menyerupai mangkok dengan cirri-ciri sebagai berikut:
a. Berasal dari kata
scyphos = mangkok.
b. Bentuk tubuh
Scyphozoa menyerupai mangkuk atau cawan, sehingga sering disebut ubur-ubur
mangkuk .
c. Memiliki bentuk
dominan medusa.
d. Polip bagian atas
akan membentuk medusa lalu lepas melayang di air.
e. Medusa akan
melakukan kawin dan membentuk planula sebagai calon polip.
f. contoh Aurelia
aurita
3. Ctenophora
Beberapa zoolog menganggap ctenophora merupakan filum tersendiri.
Tubuhnya mempunyai lapisan mesoderm, tidak mempunyai nematoksis dan tentakelnya
mengandung zat-zat pelekat untuk menangkap mangsa. Ctenophora dibedakan atas 2
subkelas, yaitu :
a. Subkelas Tentaculata
(punya tentakel).
Terdiri atas beberapa
ordo, antara lain :
·
Cydippida, tubuh bulat/oval,
terdapat semacam tanduk. Contoh : Mertensia.
·
Cobata, tubuh memadat dilengkapi dengan dua cuping
oval, contoh : Mnemiopsis, Bolinopsis dan Leucothea.
·
Cestida, tubuh seperti pita,
contoh : Cestum dan Velamen.
·
Platyctenida, tubuh pipih, contoh : Ctenoplana
dan Coeloplana.
b. Subkelas muda (tak
punya tentakel), berupa ordo Beroida,
tubuh kerucut atau silinder. Contoh : Beroe.
2.2.4 ECHINODERMATA
A.
Pengertian Echinodermata
Filum Echinodermata
(dari bahasa Yunani untuk kulit berduri) adalah sebuah filum hewan laut yang
mencakup bintang laut, Teripang, dan beberapa kerabatnya. Kelompok hewan ini
ditemukan di hampir semua kedalaman laut.
Echinodermata adalah filum hewan terbesar yang
tidak memiliki anggota yang hidup di air tawar atau darat. Hewan-hewan ini juga
mudah dikenali dari bentuk tubuhnya: kebanyakan memiliki simetri radial,
khususnya simetri radial pentameral (terbagi lima).
B.
Ciri-Ciri Echinodermata
·
Bentuk tubuh dewasanya adalah simetris radial
·
Bentuk tubuh larvanya adalah simetris bilateral
·
Kulitnya terdiri atas lempeng-lempeng kapur dan duri-duri kecil
pada permukaannya
·
Merupakan hewan pemakan sampah laut
·
Pergerakannya dengan sistem ambulakral
·
Saluran pencernaan masih sederhana
·
Sistem syaraf dengan batang cincin yang bercabang ke arah radial.
C. Sistem Tubuh Echinidermata
·
Sistem Ambulakral
Sistem Ambulakral Merupakan
sistem aliran air lewat pembuluh yang dilakukan oleh kelompok Echinodermata
kelompok hewan berkulit duri). sistem kerjanya diawali dari masuknya air dari
laut melalui lubang madreporit dabagian punggung yang kemudian dasalurkan ke
saluran saluran yang berakhir ke ampula yang menyerupai balon/tabung (kaki
tabung) ampula yang berisi air ini nanti akan di tekankan ke obyek batuan
sehingga bisa membawa badannya bergerak , tentu penekanan ampula mempunyai
konsekwensi air di ampula keluar sehingga kempes lagi air bergerak ke mulut -
begitu seterusnya.
Berikut jalur jalur pembuluh air ditubuhnya :
• Madreporit, merupakan lubang tempat masuknya
air dari luar tubuh.
• Saluran batu
• Saluran cincin
• saluran radial, meluas ke seluruh tubuh.
• Saluran lateral
• Saluran batu
• Saluran cincin
• saluran radial, meluas ke seluruh tubuh.
• Saluran lateral
• Ampula
• Kaki
tabung
·
Sistem Reproduksi
Echinodermata mempunyai
jenis kelamin terpisah, sehingga ada yang jantan dan betina. Fertilisasi
terjadi di luar tubuh, yaitu di dalam air laut. Telur yang telah dibuahi akan
membelah secara cepat menghasilkan blastula, dan selanjutnya berkembang menjadi
gastrula. Gastrula ini berkembang menjadi larva. Larva atau disebut juga
bipinnaria berbentuk bilateral simetri. Larva ini berenang bebas di dalam air
mencari tempat yang cocok hingga menjadi branchidaria, lalu mengalami
metamorfosis dan akhirnya menjadi dewasa.
·
Sistem Pernafasan Dan Eksresi
Echinodermata bernafas
menggunakan paru-paru kulit atau dermal branchiae (Papulae) yaitu penonjolan
dinding rongga tubuh (selom) yang tipis. Tonjolan ini dilindungi oleh silia dan
pediselaria. Pada bagian inilah terjadi pertukaran oksigen dan karbondioksida.
Ada pula beberapa jenis Echinodermata yang bernafas dengan menggunakan kaki
tabung.
Sisa-sisa metabolisme yang terjadi di dalam
sel-sel tubuh akan diangkut oleh amoebacyte (sel-sel amoeboid) ke dermal
branchiae untuk selanjutnya dilepas ke luar tubuh.
·
Sistem Peredaran Darah
Sistem peredaran darah
Echinodermata umumnya tereduksi, sukar diamati. Sistem peredaran darah terdiri
dari pembuluh darah yang mengelilingi mulut dan dihubungkan dengan lima buah
pembuluh radial ke setiap bagian lengan.
·
Sistem Saraf
Sistem saraf terdiri
dari cincin saraf dan tali saraf pada bagian lengan-lengannya.
·
Sistem Pencernaan Makanan
Sistem pencernaan
makanan hewan ini sudah sempurna. Sistem pencernaan dimulai dari mulut yang
posisinya berada di bawah permukaan tubuh. Kemudian diteruskan melalui faring,
ke kerongkongan, ke lambung, lalu ke usus, dan terakhir di anus. Anus ini
letaknya ada di permukaan atas tubuh dan pada sebagian Echinodermata tidak
berfungsi. Pada hewan ini lambung memiliki cabang lima yang masing-masing
cabang menuju ke lengan. Di masing-masing lengan ini lambungnya bercabang dua,
tetapi ujungnya buntu.
D. Klasifikasi Phylum
Echinodermata
·
Kelas Asteroidea
Asteroidea merupakan spesies
Echinodermata yang paling banyak jumlahnya, yaitu sekitar 1.600
spesies.Asteroidea juga sering disebut bintang laut.Contoh spesies ini adalah
Acanthaster sp., Linckia sp., dan Pentaceros sp.Tubuh Asteroidea memiliki duri
tumpul dan pendek. Duri tersebut ada yang termodifikasi menjadi bentuk seperti
catut yang disebut Pediselaria.Fungsi pediselaria adalah untuk menangkap
makanan serta melindungi permukaan tubuh dari kotoran.Pada bagian tubuh dengan
mulut disebut bagian oral, sedangkan bagian tubuh dengan lubang anus disebut
aboral.Pada hewan ini, kaki ambulakral selain untuk bergerak juga merupakan
alat pengisap sehingga dapat melekat kuat pada suatu dasar.
Klasifikasi Bintang Laut (P. nodosus)
adalah sebagai berikut :
Kingdom
: Animalia
Phylum : Echinodermata
Kelas : Asteroidea
Ordo : Valvatida
Famili : Presteridae
Genus : Protoreaster
Spesies : P. nodosus
Phylum : Echinodermata
Kelas : Asteroidea
Ordo : Valvatida
Famili : Presteridae
Genus : Protoreaster
Spesies : P. nodosus
Sistem ambulakral Asteroidea terdiri dari :
·
Medreporit adalah lempengan berpori pada permukaan cakram pusat
dibagian dorsal tubuh.
·
Saluran cincin terdapat di rongga tubuh cakram pusat
·
Saluran radial merupakan cabang saluran cincin ke setiap lengan
·
Kaki ambulakral merupakan juluran saluran radial yang keluar.
Anggota Asteroidea memiliki kemampuan regenerasi yang sangat besar. Setiap bagian lengannya dapat beregenerasi dan bagian cakram pusat yang rusak dapat diganti.Asteroidea merupakan hewan dioseus, organ kelamin berpasangan pada setiap lengan, dan fertilisasi terjadi di luar tubuh.
·
Kelas Echinoidea
Tubuh hewan ini dipenuhi
oleh duri tajam. Duri ini ada yang pendek dan ada pula yang panjang seperti
landak. Itulah sebabnya jenis hewan ini sering disebut landak laut. Tubuhnya
tanpa lengan hampir bulat atau gepeng. Ciri lainnya adalah mulutnya yang
terdapat di permukaan oral dilengkapi dengan 5 buah gigi sebagai alat untuk
mengambil makanan. Hewan ini memakan bermacam-macam makanan laut, misalnya
hewan lain yang telah mati, atau organisme kecil lainnya. Alat pengambil makanan
digerakkan oleh otot yang disebut lentera arisoteteles. Sedangkan anus,
madreporit dan lubang kelamin terdapat di permukaan atas. Berikut klasifikasi
dari bulu babi :
Kingdom
: Animalia
Phylum : Echinodermata
Kelas : Echinoidea
Ordo : Tripnoida
Famili : Tripnoideai
Genus : Tripneustes
Spesies : T. gratilla
Phylum : Echinodermata
Kelas : Echinoidea
Ordo : Tripnoida
Famili : Tripnoideai
Genus : Tripneustes
Spesies : T. gratilla
·
Kelas Ophiuroidea
Hewan ini jenis tubuhnya
memiliki 5 lengan yang panjang-panjang. Kelima tangan ini juga bisa digerak-gerakkan
sehingga menyerupai ular. Oleh karena itu hewan jenis ini sering disebut
bintang ular laut (Ophiuroidea brevispinum). Mulut dan madreporitnya terdapat
di permukaan oral. Hewan ini tidak mempunyai anus, sehingga sisa makanan atau
kotorannya dikeluarkan dengan cara dimuntahkan melalui mulutnya. Hewan ini
hidup di laut yang dangkal atau dalam. Biasanya bersembunyi di sekitar batu
karang, rumput laut, atau mengubur diri di lumpur/pasir. Ia sangat aktif di
malam hari. Makanannya adalah udang, kerang atau serpihan organisme lain
(sampah).
Klasifikasi Bintang Ular (O. nereidina) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Echinodermata
Kelas : Ophiuroidea
Ordo : Valvatida
Famili : Ophiutricoidea
Genus : Ophiutricoides
Spesies : O. nereidina
Kingdom : Animalia
Phylum : Echinodermata
Kelas : Ophiuroidea
Ordo : Valvatida
Famili : Ophiutricoidea
Genus : Ophiutricoides
Spesies : O. nereidina
·
Kelas Crinoidea
Jenis Echinodermata ini
yang hampir menyerupai tumbuhan. Memang sekilas hewan ini mirip tumbuhan bunga.
Ia memiliki tangkai dan melekat pada bebatuan, tak beda seperti tumbuhan yang
menempel di bebatuan. Ia juga memiliki 5 lengan yang bercabang-cabang lagi
mirip bunga lili. Oleh karena itu hewan ini sering disebut lili laut
(Metacrinus sp). Ciri lainnya mulut dan anus hewan ini terdapat di permukaan
oral dan tidak mempunyai madreporit. Hewan ini sering ditemukan menempel dengan
menggunakan cirri (akar) pada bebatuan di dasar laut. Ia juga bisa berenang
bebas, sehingga jika lingkungan tidak menguntungkan akan pindah dan menempel
pada tempat lain. Jenis lainnya adalah Antedon tenella, dengan tubuhnya
kecil-kecil, bentuk piala disebut calyx (kaliks) tanpa tangkai.
Klasifikasi Lili Laut (A. mediterranea)
adalah sebagai berikut :
Filum
: Echinodermata
Kelas : Crinoidea
Subkelas : Euchinoidea
Ordo : Comatulida
Famili : Antedonidae
Genus : Antedon
Spesies : Antedon mediterranea
Kelas : Crinoidea
Subkelas : Euchinoidea
Ordo : Comatulida
Famili : Antedonidae
Genus : Antedon
Spesies : Antedon mediterranea
·
Kelas Holothuroidea
Hewan jenis ini kulit durinya halus, sehingga sekilas tidak tampak sebagai jenis Echinodermata. Tubuhnya seperti mentimun dan disebut mentimun laut atau disebut juga teripang. Hewan ini sering ditemukan di tepi pantai. Gerakannya tidak kaku, fleksibel, lembut dan tidak mempunyai lengan. Rangkanya direduksi berupa butirbutir kapur di dalam kulit.
Hewan jenis ini kulit durinya halus, sehingga sekilas tidak tampak sebagai jenis Echinodermata. Tubuhnya seperti mentimun dan disebut mentimun laut atau disebut juga teripang. Hewan ini sering ditemukan di tepi pantai. Gerakannya tidak kaku, fleksibel, lembut dan tidak mempunyai lengan. Rangkanya direduksi berupa butirbutir kapur di dalam kulit.
Kingdom
: Animalia
Phylum : Echinodermata
Kelas : Holothuridea
Ordo : Aspidochirotida
Famili : Aspidochirota
Genus : Holothuria
Spesies : H. scabra
Phylum : Echinodermata
Kelas : Holothuridea
Ordo : Aspidochirotida
Famili : Aspidochirota
Genus : Holothuria
Spesies : H. scabra
Mulut terletak pada ujung anterior dan anus pada
ujung posterior (aboral). Di sekeliling mulut terdapat tentakel yang bercabang
sebanyak 10 sampai 30 buah. Tentakel dapat disamakan dengan kaki tabung bagian
oral pada Echinodermata lainnya. Tiga baris kaki tabung di bagian ventral
digunakan untuk bergerak dan dua baris di bagian dorsal berguna untuk melakukan
pernafasan. Selain itu pernafasan juga menggunakan paru-paru air. Kebiasaan
hewan ini meletakkan diri di atas dasar laut atau mengubur diri di dalam
lumpur/pasir dan bagian akhir tubuhnya diperlihatkan. Jika makhluk ini
diganggu/diberi rangsangan dari luar maka ia akan mengkerut.
2.2.5 ARTHTROPODA
A.
Pengertian Arthropoda
Arthropoda adalah hewan triploblastik, selomata (tubuh dan kaki
beruas-ruas) dan bilateral simetris. Tubuhnya terdiri atas kepala, dada, dan
abdomen yang keseluruhannya dibungkus oleh zat kitin dan merupakan kerangka
luar (eksoskeleton). Biasanya diantara ruas-ruas terdapat bagian yang tidak
berkitin sehingga ruas-ruas tersebut mudah digerakkan.
Pada waktu tertentu
kulit dan tubuh arthropoda dapat mengalami pergantian kulit
(eksdisis).Arthropoda memiliki sistim pencernaan yang sempurna (memiliki anus).
Mulut dilengkapi dengan rahang. Sistim peredaran darahnya terbuka dan darahnya
berwarna biru, karena mengandung disebabkan oleh hemosianin (bukan hemoglobin).
Sistem pernapasannya ada yang berupa trakea, insang, paru-paru buku, atau
melalui seluruh permukaan tubuhnya. Organ ekskresinya berupa tubulus malphigi
yang bermuara pada usus belakang.
Reproduksi dilakukan
dengan perkawinan, tetapi ada juga beberapa hewan yang melakukan
parthenogenesis. Partenogenesis adalah proses perkembangan embrio dari telur
yang tidak dibuahi. Jenis kelaminnya terpisah (gonokori). Artinya ada hewan
jantan ada hewan betina. Sistem sarafnya adalah sistem saraf tangga tali
B.
Ciri-Ciri Umum Filum Arthropoda :
Secara umum ciri-ciri filum arthropoda adalah sebagai berikut:
o Tubuh beruas-ruas yang
terbagi atas kepala (caput), dada (thoraks), dan badan belakang (abdomen).
Beberapa diantaranya ada yang memiliki kepala dan dada yang bersatu
(cephalothoraks).
o Memiliki 3 lapisan
(triploblastik) yaitu ektoderm, mesoderm dan endoderm dengan rongga tubuh.
o Bentuk tubuh simetris
bilateral.
o Bagian tubuh terbungkus
oleh eksoskelet yang mengandung khitin.
o Alat pencernaan makanan
lengkap terdiri atas mulut, kerongkongan usus, dan anus.
o Sistem reproduksi
terpisah, artinya ada hewan jantan dan ada hewan betina. Reproduksi terjadi
secara seksual dan aseksual (partenogenesis dan paedogenesis).
o Memiliki sistem
peredaran darah terbuka (sistem lakuner) dan alat peredarannya berupa jantung
dan pembuluh-pembuluh darah terbuka .
o Sistem syaraf terdiri
dari ganglion anterior yang merupkan “otak” terletak di atas saluran
pencernaan, sepasang syaraf yang menghubungkan otak dengan syaraf sebelah
ventral,serta pasangan-pasangan ganglion ventral yang dihubungkan satu
dengan yang lain oleh urat syaraf ventral, berjalan sepanjang tubuh dari
depan ke belakang di bawah saluran pencernaan.
o Sistem eksresinya berupa
berupa saluran-saluran malphigi
o Alat pernapasan berupa
trakea, insang, dan paru-paru yang merupakan lembaran (paru-paru buku)
o Sifat hidup ada yang
parasit, heterotropik, dan hidup secara bebas
o Hidupnya di darat, air
tawar dan laut.
·
Secara morfologi Arthropoda dicirikan dengan badan yang beruas
biasnya mencapai lebih dari 21 ruas, yang tiap ruasnya mempunyai sepasang
anggota badan (appendages) namun sepasang anggota badan ini ada yang mereduksi
atau berubah bentuk dan fungsi sesuai dengan kebutuhan masing-masing kelompok.
·
Ciri penting lain adalah kelompok arthropoda tidak memunyai
struktur tulang di dalam tubuhnya. Arthropoda mempunyai struktur dinding badan
keras yang menutupi tubuh bagian luar untuk melindungi bagian dalam tubuh yang
biasanya disebut eksosekeleton. Bagian paling luar mempunyai struktur yang
paling keras dan diperkuat oleh khitin. Meskipun keras namun strukutur ini
masih memungkinkan pergerakan di tiap ruas.
C.
Sistem organ dalam tubuh arthropoda antara lain :
|
Sistem organ
|
Keterangan
|
|
Sistem pencernaan makanan
|
Alat pencernaan makanan lengkap terdiri dari mulut, kerongkongan, usus,
dan anus. Mulut dilengkapi alat-alat mulut. Anus terdapat pada segmen
posterior.
|
|
Sistem ekskresi
|
Ekskresi dengan kelenjar hijau atau dengan pembuluh malpigih
|
|
Sistem reproduksi
|
Reproduksi secara seksual dan aseksual (partenogenesis dan paedogenesis).
Sistem reproduksi pada arthropoda terpisah, artinya ada hewan jantan dan ada
hewan betina.
|
|
Sistem saraf
|
Sistem saraf berupa tangga tali dan alat peraba berupa antena.
|
Table 2.2.5.1 Sistem organ
dalam tubuh arthropoda
D.
Pembagian Kelas Filum
Arthropoda
Berdasarkan persamaan dan perbedaan struktur tubuhnya, arthropoda
dikelompokkan menjadi lima kelas, yaitu Custacea, Insekta, Diplopoda,
Arachoinidea, dan Chilopoda. Persamaan dan perbedaan ciri-ciri tersebut adalah
sebagai berikut:
|
Kelas
Crustacea
(udang udangan):
|
Kelas
Insekta
(serangga):
|
Kelas
Arachnoidea
(laba-laba
|
Kelas
Diplopoda
(kaki
seribu):
|
Kelas
Chilopoda
(kelabang):
|
|
|
Susunan
Tubuh
|
Kepala (5
ruas), dada
(8 ruas), dan
perut (6
ruas) .
|
Kepala,
dada, dan
perut.
|
Kepala, dada,
dan perut..
|
kepala dan
badan yang
bentuknya
silindris..
|
Kepala dan
badan yang
memanjang
agak
gepeng
|
|
Antena
|
2 pasang
|
Sepasang
|
Tak ada
|
Sepasang
|
sepasang
|
|
Anggota
Tubuh
|
Sepasang
pada setiap
ruas untuk
berbagai
fungsi, 5
pasang kaki
pada dada
|
3 pasang
Kaki
|
4 pasang kaki
pada
sefalotoraks
|
2 pasang
kaki pada
setiap ruas
tubuh
|
Sepasang
kaki pada
setiap ruas
|
|
Sayap
|
Tak ada
|
Ada
|
Tak ada
|
Tak ada
|
Tak ada
|
|
Alat
respirasi
|
Insang atau
permukaan
tubuh
|
Trakea
|
Paru-paru
buku
|
Trakea
|
trakea
|
|
Habitat
|
air
|
Darat
|
Darat
|
Darat
|
darat
|
Table
2.2.5.2 Pembagian Kelas Filum
Arthropoda
E. Karakteristik umum anggota arthropoda
|
Ciri-ciri
|
Crustacea
|
Chelicerata
|
Myriapoda
|
Hexapoda
|
|
|
Pembagian tubuh
|
Sefalotoraks (kepala dan dada menyatu) dan abdomen (perut)
|
Dada dan abdomen bersatu. Kepala yang sesungguhnya tidak ada, tetapi
berupa alas kepala (kapitulum)
|
Kepala dan badan panjang
|
Kepala dan dada pendek, sedangkan abdomen panjang
|
Kepala, dada, dan abdomen dapat dibedakan
|
|
Antena
|
2 pasang
|
Tidak ada
|
1 pasang dan panjang
|
1 pasang dan pendek
|
1 pasang
|
|
Bagian-bagian mulut
|
1 pasang mandibula, 1 pasang maksila, 2 pasang maksiliped
|
1 pasang kalisera
1 pasang pedipalpus
|
1 pasang mandibula, 2 pasang maksila
|
1 pasang mandibula, 1 pasang maksila
|
1 pasang mandibula, 1 pasang maksila labium
|
|
Kaki
|
1 pasang per ruas atau tidak ada
|
4 pasang pada kepala dada
|
1 pasang peruas
|
2 atau 1 pasang per ruas
|
3 pasang pada dada
|
|
Organ pernapasan
|
Insang
|
Paru-paru buku
|
Trakea
|
Trakea
|
Trakea
|
|
Lubang kelamin
|
2 di bidang belakang dada
|
1 di ruas kedua dari abdomen
|
1 di ujung abdomen
|
1 di ruas ke-3 dekat kepala
|
1 di ujung abdomen
|
|
Perkembangan
|
Umumnya melalui fase larva
|
Langsung, kecuali caplak atau tungau
|
Tidak melalui fase larva
|
Tidak melalui larva
|
Umumnya melaui fase larva
|
|
Habitat
|
Air tawar, air laut,sedikit di darat
|
Terutama di darat
|
Terutama di darat
|
Semuanya di darat
|
Terutama di darat
|
Table
2.2.5.3 Karakteristik umum anggota arthropoda
A. Perbedaan kenampakan morfologi lima kelas utama Arthropoda antara lain :
|
Perbedaan
|
Crustacea
|
Arachnida
|
Diplopoda
|
Chilopoda
|
Insecta
|
|
Pembagian badan
|
Cepahalotorax dan abdomen
|
Cepahalotorax dan abdomen
|
Kepala dan badan
|
Kepala dan badan
|
Kepala, thorax dan abdomen
|
|
Bentuk badan
|
Bervariasi
|
Pipih
|
Globular
|
Pipih
|
Bersvariasi
|
|
Kaki
|
Banyak
|
Empat pasang
|
Banyak
|
Banyak
|
Tiga pasang
|
|
Antena
|
2 pasang
|
Tidak ada
|
Sepasang
|
Sepasang
|
Sepasang
|
|
Alat mulut
|
Mandibula
|
Chelicera dan pedipalpus
|
Mandibula
|
Mandibula
|
Mandibula
|
|
Habitat
|
Kebanyakan di laut dan air tawar, jarang terrestrial
|
Teristerial
|
Teristerial
|
Teristerial
|
Teristerial
|
Table 2.2.5.4 Perbedaan kenampakan morfologi lima kelas utama
Arthropoda
Contoh hewan Arthropoda, ada banyak hewan
arthropoda dinunia mulai dari semut, kalajengking, kelabang, kaki seribu, dll
Klasifikasi (penggolongan) Arthoproda
Berdasarkan ciri-ciri yang dimilikinya, Arthropoda dikelompokkan menjadi 4
kelas, yaitu:
·
Kelas Crustacea (golongan udang).
·
Kelas Arachnida (golongan kalajengking dan laba-laba).
·
Kelas Myriapoda (golongan luwing).
·
Kelas Insecta (serangga).
2.3 VERTEBRATA
Vertebrata adalah subfilum dari Chordata,
mencakup semua hewan yang memiliki tulang belakang
yang tersusun dari vertebra. Vertebrata adalah subfilum terbesar dari Chordata.
Ke dalam vertebrata dapat dimasukkan semua jenis ikan (kecuali remang,
belut jeung, "lintah laut", atau hagfish), amfibia,
reptil,
burung,
serta hewan menyusui. Kecuali jenis-jenis ikan,
vertebrata diketahui memiliki dua pasang tungkai.Vertebrata
memiliki sistem otot
yang banyak terdiri dari pasangan massa, dan juga sistem saraf pusat yang biasanya terletak di
dalam tulang belakang. Sistem respirasi
menggunakan insang
atau paru-paru.
2.3.1 REPTIL
A. Karakteristik Reptilia
Reptilia (dalam bahasa latin, reptil = melata) memiliki kulit bersisik yang
terbuat dari zat tanduk (keratin). Sisik berfungsi mencegah kekeringan. Ciri
lain yang dimiliki oleh sebagian besar reptil adalah anggota tubuh berjari
lima, bernapas dengan paru-paru, jantung beruang tiga atau empat, menggunakan
energi lingkungan untuk mengatur suhu tubuhnya sehingga tergolong hewan
eksoterm, fertilisasi secara internal, menghasilkan telur sehingga tergolong
ovipar dengan telur amniotik bercangkang.
Reptilia merupakan kelompok vertebrata yang beradaptasi untuk hidup di
darat yang lingkungannya kering. Adanya sisik dan kulit yang menanduk mencegah
hilangnya kelembaban tubuh dan membantu hewan untuk hidup di permukaan yang
kasar. Nama kelas Reptilia menunjukkan cara berjalan (latin: retum=melata).
Reptilia tersebar baik di daerah teropis maupun daerah subtropics. Pada
daerah-daerah yang mendekati kutub dan tempat-tempat yang lebih tinggi jumlah
dan jenisnya makin sedikit. Reptile menempati macam-macam habitat. Phyton
misalnya terdapat di daerah-daerah tropis, hanya terdapat di rawa-rawa, sungai
atau sepanjang pantai. Penyu terbesar teradapat dilaut dan kura-kura darat
raksasa terdapat di kepulauan. Kadal dan ular umumnya terrestrial, tetapii ada
yang menempati karang-karang atau pohon.
Secara umum reptilia memiliki karakteristik sebagai berikut :
·
Tubuh ditutupi kulit kering bertanduk
(tidak licin), biasanya dilengkapi sisik atau kuku, dan kelenjar dipermuakaan
hanya sedikit.
·
Memiliki dua pasang anggota badan,
masing-masing dengan lima jari yang pada bagian ujungnya terdapat cakar dan
dapat digunakan untuk berlari, merayap atau memanjat. Anggota badan menyerupai
dayung pada penyu, memendek pada kadal, dan tidak ada anggota badan pada
beberapa jenis kadal dan semua jenis ular.
·
Kerangka terdiri dari tulang keras,
tengkorak dilengkapi rongga oksipital
·
Jantung terdiri dari empat ruang yang
belum terpisah sempurna, dua serambi dan vertikel yang sebagian saling
terpisah, satu pasang berkas aorta, sel darah merah oval bikonkaf dengan inti.
·
Resppirasi dengan paru-paru, pada
kura-kura air dilengkapi dengan respirasi kloaka.
·
Terdapat 12 pasang saraf cranial.
·
Suhu tubuh berubah-ubah bergantung suhu
lingkungan (poikilothermis).
·
Fertilisasi internal, menggunakan organ
kopulasi, telurnya besar mengandung kuning telur yang terbungkus cangkang licin
atau berkulit, biasanya telur ditetaskan tetapi pada beberapa jenis ular dan
kadal embrio berkembang didalam tubuh betina.
·
Hewan Reptilia lebih maju dibanding
amphibi karena memiliki diantaranya:
·
Penutup tubuh yang kering dan bersisik
sebagai adaptasi terhadap kehidupan di darat.
·
Anggota tubuh memungkinkan hewan untuk
berlari.
·
Pemisahan darah bersih dan kotor di
jantung.
·
Skeleton terdiri dari tulang sejati.
·
Telur dilengkapi dengan membrane dan
cangkang sebagai pelindung embrio sehingga memungkinkan untuk berkembang di
darat.
1)
UKURAN
Fosil Reptilia ditemukan dalam ukuran yang bervariasi, dari kecil sampai
berukuran besar. Dari Reptilia yang ada pada masa sekarang, anaconda di Amerika
Serikat dapat tumbuh sampai 990 cm, komodo (varanus komodoensis)
memiliki panjang tubuh 285 cm. Beberapa jenis kura-kura darat dari pulau
Galapagos mencapai panjang 120 cm. Buaya yang ditemukan tahun 1821 di Luzzon
Philipina mencapai panjang 610 cm. Ular Laptotyphlops dari Siria berukuran
seperti jarum renda, dan ada pula kadal Lepidoblepharis dari Panama yang panjangnya
5 cm. sebagian besar di Amerika Utara berukuran 20 120 cm, dan kadal dengan
panjang di bawah 30 cm.
2)
STRUKTUR EKSTERNAL
Morfologi Reptilia meliputi kepala yang terpisah, leher, tubuh, dan ekor,
angggota tubuh berukuran pendek dengan sejumlah jari yang pada bagian ujungnya
dilengkapi cakar dan begitupun ada juga sebagaian subordo yang lain yang tidak
memiliki jari. Mulutnya yang panjang dilengkapi dengan gigi. Buaya mialnya di
dekat ujung moncong terdapat dua lubang hidung. Mata berukuran besar dan
terletak lateral, dengan kelopak atas dan bawah, serta membrane nictatin
transparan yang dapat bergerak di bawah kelopak mata, telinga berukuran kecil
terletak dibelakang mata. Anus terletak longitudinal dibelakang pangkal kaki
belakang.
3)
SISTEM PERNAPASAN
Secara umum reptilia
bernapas menggunakan paru-paru. Tetapi pada beberapa reptilia, pengambilan
oksigen dibantu oleh lapisan kulit disekitar kloaka. Pada reptilia umumnya
udara luar masuk melalui lubang hidung, trakea, bronkus, dan akhirnya ke
paru-paru. Sistem pernafasan pada reptilia lebih maju dari Amphibi.
Paru-paru Reptil berada
dalam rongga dada dan dilindungi oleh tulang rusuk. Paru paru Reptil hanya
terdiri dari beberapa lipatan dinding yang berfungsi memperbesar permukaan
pertukaran gas. Paru paru kadal, kura-kura, dan buaya lebih kompleks, dengan
beberapa belahan-belahan yang membuat paru-parunya bertekstur seperti spon.
Paru-paru pada beberapa jenis kadal, misalnya bunglon Afrika, mempunyai
pundi-pundi hawa atau kantung udara cadangan sehingga memungkinkan hewan
tersebut melayang di udara.
Reptilia bernapas menggunakan paru-paru. Gas O2 dalam udara masuk melalui lubang hidung => rongga mulut => anak tekak => trakea yang panjang => bronkiolus dalam paru-paru. Dari paru-paru, O2 diangkut darah menuju seluruh jaringan tubuh. Dari jaringan tubuh, gas CO2 diangkut darah menuju jantung untuk dikeluarkan melalui paru-paru => bronkiolus => trakea yang panjang => anak tekak => rongga mulut => lubang hidung. Pada Reptilia yang hidup di air, lubang hidung dapat ditutup ketika menyelam.
Reptilia bernapas menggunakan paru-paru. Gas O2 dalam udara masuk melalui lubang hidung => rongga mulut => anak tekak => trakea yang panjang => bronkiolus dalam paru-paru. Dari paru-paru, O2 diangkut darah menuju seluruh jaringan tubuh. Dari jaringan tubuh, gas CO2 diangkut darah menuju jantung untuk dikeluarkan melalui paru-paru => bronkiolus => trakea yang panjang => anak tekak => rongga mulut => lubang hidung. Pada Reptilia yang hidup di air, lubang hidung dapat ditutup ketika menyelam.
4)
SISTEM REPRODUKSI
Jantan
Memiliki alat kelamin
khusus : hemipenis
Sepasang testis
Memiliki epididimis
Memiliki vas
deferens
Betina
Memiliki sepasang
ovarium
Memiliki saluran telur
(oviduk)
Berakhir pada saluran
kloaka
Kelompok reptil seperti kadal, ular dan kura-kura merupakan
hewan-hewan yang fertilisasinya terjadi di dalam tubuh (fertilisasi internal).
Umumnya reptil bersifat ovipar, namun ada juga reptil yang bersifat ovovivipar,
seperti ular garter dan kadal. Telur ular garter atau kadal akan menetas di
dalam tubuh induk betinanya. Namun makanannya diperoleh dari cadangan makanan
yang ada dalam telur. Reptil betina menghasilkan ovum di dalam ovarium. Ovum
kemudian bergerak di sepanjang oviduk menuju kloaka. Reptil jantan menghasilkan
sperma di dalam testis. Sperma bergerak di sepanjang saluran yang langsung
berhubungan dengan testis, yaitu epididimis. Dari epididimis sperma bergerak
menuju vas deferens dan berakhir di hemipenis. Hemipenis merupakan dua penis yang
dihubungkan oleh satu testis yang dapat dibolak-balik seperti jari-jari pada
sarung tangan karet. Pada saat kelompok hewan reptil mengadakan kopulasi, hanya
satu hemipenis saja yang dimasukkan ke dalam saluran kelamin betina.
Ovum reptil betina yang telah dibuahi sperma akan melalui oviduk
dan pada saat melalui oviduk, ovum yang telah dibuahi akan dikelilingi oleh
cangkang yang tahan air. Hal ini akan mengatasi persoalan setelah telur
diletakkan dalam lingkungan basah. Pada kebanyakan jenis reptil, telur ditanam
dalam tempat yang hangat dan ditinggalkan oleh induknya. Dalam telur terdapat
persediaan kuning telur yang berlimpah.
Hewan reptil seperti kadal, iguana laut, beberapa ular dan
kura-kura serta berbagai jenis buaya melewatkan sebagian besar hidupnya di
dalam air. Namun mereka akan kembali ke daratan ketika meletakkan telurnya.
2.3.2 AVES
A. Pengertian Aves Secara Umum
Kerajaan : Animalia
Filum :
Chordata
Upafilum :
Vertebrata(tidak termasuk) Archosauria
Kelas : Aves
- Ciri morfologi aves
Aves
merupakan hewan yang terspesialisasi untuk terbang jauh, dengan perkecualian
pada beberapa jenis yang dikelompokkan dalam aves/burung primitif.
Bulu-bulunya, terutama di sayap, telah tumbuh semakin lebar, ringan, kuat dan
bersusun rapat. Bulu-bulu ini juga bersusun demikian rupa sehingga mampu
menolak air, dan memelihara tubuh burung tetap hangat di tengah udara dingin.
Tulang belulangnya menjadi semakin ringan karena adanya rongga-rongga udara di
dalamnya, namun tetap kuat menopang tubuh. Tulang dadanya tumbuh membesar dan
memipih, sebagai tempat perlekatan otot-otot terbang yang kuat. Gigi-giginya
menghilang, digantikan oleh paruh ringan dari zat tanduk.
Struktur
Bulu adalah ciri khas kelas aves yang tidak dimiliki oleh vertebrata lain.
Hampir seluruh tubuh aves ditutupi oleh bulu, yang secara filogenetik berasal
dari epidermal tubuh, yang pada reptile serupa dengan sisik. Secara embriologis
bulu aves bermula dari papil dermal yang selanjutnya mencuat menutupi
epidermis. Dasar bulu itu melekuk ke dalam pada tepinya sehingga terbentuk
folikulus yang merupakan lubang bulu pada kulit. Selaput epidermis sebelah luar
dari kuncup bulu menanduk dan membentuk bungkus yang halus, sedang epidermis
membentuk lapisan penyusun rusuk bulu.Sentral kuncup bulu mempunyai bagian
epidermis yang lunak dan mengandung pembuluh darah sebagai pembawa zat-zat
makanan dan proses pengeringan pada perkembangan selanjutnya (Jasin, 1984).
Berdasarkan susunan
anatomis bulu dibagi menjadi:
Filoplumae, Bulu-bulu
kecil mirip rambut tersebar di seluruh tubuh. Ujungnya bercabang-cabang pendek
dan halus. Jika diamati dengan seksama akan tampak terdiri dari shaft yang
ramping dan beberapa barbulae di puncak
Plumulae, Berbentuk
berbentuk hampir sama dengan filoplumae dengan perbedaan detail
Plumae, Bulu yang
sempurna
Barbulae, Ujung dan sisi
bawah tiap barbulae memiliki filamen kecil disebut barbicels yang berfungsi
membantu menahan barbula yang saling bersambungan.
Susunan plumae terdiri dari
Susunan plumae terdiri dari
Shaft (tangkai), yaitu
poros utama bulu
Calamus, yaitu tangkai
pangkal bulu
Rachis, yaitu lanjutan
calamus yang merupakan sumbu bulu yang tidak berongga di dalamnya. Rachis
dipenuhi sumsum dan memiliki jaringan
Vexillum, yaitu bendera
yang tersusun atas barbae yang merupakan cabang-cabang lateral dari rachis
Lubang
pada pangkal calamus disebut umbilicus inferior, sedangkan lubang pada ujung
calamus disebut umbilicus superior. Bulu burung pada saat menetas disebut
neossoptile, sedangkan setelah dewasa disebut teleoptile
B. Anatomi Dan Fisiologi Sistem Organ
a. Sistem skeleton muscular
Tulang
kuadrat dari tengkorak mempunyai dua artikular dorsal. Semua tulang pelvis
bersatu. Ada sebuah pigostil. Sternum mempunyai 4 buah takik(celah) posterior.
Otot pektoralis mayor dimulai pada ruas tulag sternum dan menarik tulang
hunerus ke bawah (berarti menarik sayap ke bawah). Sebaliknya, otot pektoralis
minor menarik sayap ke atas seperti pada gambar di bawah :
b. Sistem Pencernaan
Organ pencernaan pada burung terbagi atas saluran pencernaan dan
kelenjar pencernaan. Makanan burung bervariasi berupa biji-bijian, hewan kecil,
dan buah-buahan.
Saluran pencernaan pada
burung terdiri atas:
·
paruh: merupakan modifikasi dari gigi,
·
rongga mulut: terdiri atas rahang atas yang merupakan penghubung
antara rongga mulut dan tanduk,
·
faring: berupa saluran pendek, esofagus: pada burung terdapat
pelebaran pada bagian ini disebut tembolok, berperan sebagai tempat penyimpanan
makanan yang dapat diisi dengan cepat,
·
lambung terdiri atas:
ü Proventrikulus (lambung
kelenjar): banyak menghasilkan enzim pencernaan, dinding ototnya tipis.
ü Ventrikulus (lambung
pengunyah/empedal): ototnya berdinding tebal. Pada burung pemakan biji-bijian
terdapat kerikil dan pasir yang tertelan bersama akanan vang berguna untuk
membantu pencernaan dan disebut sebagai " hen’steeth”,
·
intestinum: terdiri atas usus halus dan usus tebal yang bermuara
pada kloaka.
Usus halus pada burung terdiri dari duodenum, jejunum dan ileum.
Usus halus pada burung terdiri dari duodenum, jejunum dan ileum.
Kelenjar pencernaan
burung meliputi: hati, kantung empedu, dan pankreas. Pada burung merpati tidak
terdapat kantung empedu. Usus halus pada burung terdiri dari duodenum, jejunum
dan ileum. Kelenjar pencernaan burung meliputi: hati, kantung empedu, dan
pankreas. Pada burung merpati tidak terdapat kantung empedu.
c. Sistem
Respirasi
Saluran Pernafasan pada
Burung :
Lubang hidung >
Trakea > Bronkus > Paru-paru
1. Lubang Hidung
·
Letak dipangkal paruh di sebelah atas langit-langit rongga mulut.
2. Trakea
Mengalami penebalan
tulang rawan
Pangkal trakea terdapat
siring è suaraSiring bergetar dipengaruhi oleh otot.
Otot sternotrakealis
> otot yang menghubungkan tulang dada dengan trakea.
Otot siringialis >
otot yang menghubungkan siring dengan trakea bagian dalam.
Trakea mengalami
percabangan menjadi 2 bronkus.
3. Bronkus
Bronkus terdiri
dari :
Bronkus primer.
Bronkus Sekunder (meso
bronkus), terdiri dari :
Trakea
melanjut sebagai dua buah bronki pada siring (alat suara). Paru-paru dilengkapi
dengan kantung-kantung udara (ada 9 buah, 4 berpasangan, dan 1 median).
d. Sistem Sirkulasi
Aves
(burung) mempunyai sistem sirkulasi tertutup (berarti bahwa darah tidak pernah
meninggalkan jaringan pembuluh darah; hasil: produksi ATP lebih cepat, lebih
cepat ekskresi sisa metabolisme, nutrisi lebih cepat pada sel-sel, dll)
Untuk
mempelajari peredaran darah pada aves, kita ambil contoh peredaran darah
burung. Peredaran darah burung tersusun oleh jantung sebagai pusat peredaran
darah, darah, dan
C.
Sistem Peredaran Darah Pada Aves
Alat-alat
transportasi pada burung merpati terdiri atas jantung dan pembuluh darah.
Jantung terdiri atas empat ruang yaitu serambi kiri, serambi kanan, bilik kiri
dan bilik kanan. Darah yang banyak mengandung oksigen yang berasal dari
paru-paru tidak bercampur dengan darah yang banyak mengandung karbondioksida
yang berasal dari seluruh tubuh. Peredaran darah burung merupakan peredaran
darah ganda yang terdiri atas peredaran darah kecil dan peredaran darah besar.
2.3.3 PISCES
A.
Pengertian pisces
Pisces
merupakan salah satu kelas dalam pengklasifikasian hewan yang pastinya
merupakan binatang-binatang yang hidup di dalam air. Klasifikasi hewan ini akan
mempermudah beberapa peneliti untuk mempelajari beberapa binatang ini. Untuk
dapat mengetahui klasifikasi yang cocok maka anda juga dapat mempelajari hewan
ini berdasarkan dengan ciri-ciri yang ada pada hewan ini.
B.
Ciri-ciri pisces
Semua hewan pastinya
memiliki klasifikasi dan juga ciri-ciri yang berbeda yang akan membuat mereka
terlihat berbeda dengan binatang yang lainnya. Begitu pula juga dengan kelas
Pisces yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut antara lain:
- Hewan yang tinggal dan tumbuh di dalam air.
- Bernapas menggunakan alat pernapasan berupa insang.
- Perkembangbiakan secara seksual atau ovipar.
- Alat geraknya berupa sirip.
- Memiliki peredaran darah yang tertutup.
- Memiliki sisik pada tubuhnya yang berguna sebagai rangka luar dari tubuhnya.
Hewan pisces ini juga
dibagi ke dalam beberapa kelas dan juga beberapa kelompok. Ini pastinya akan
sangat membuat hewan ini berada dalam keberagaman. Ini akan menjadi salah satu
hal yang penting pada saat mempelajari sebuah hewan. Pisces sendiri memiliki 3
kelompok binatang yang akan membedakan mereka satu sama lain.
Pengertian dan Ciri-ciri
Pisces Saat
ini mungkin yang anda ketahui dari pisces adalah salah satu bagian dari
horoskop perbintangan. Namun yang sebenarnya, pisces berasal dari kelas dalam
dunia hewan. Kelas pisces ini merupakan binatang-binatang yang hidup di dalam
air dan biasanya bernapas menggunakan insang. Jadi untuk mempelajari binatang
ini cukup mudah karena sebagian besar dari mereka adalah binatang dalam air
yang bisa kita sebut juga dengan ikan.

Gambar 2.3.3.1 hewan
pisces
2.3.4 MAMALIA
A.
Pengertian Mamalia
Sebutan mamalia berasal dari keberadaan glandula ( kelenjar )
mamae pada tubuh mereka yang berfungsi sebagai penyuplai susu. Seperti yang
kita ketahui bahwa mamalia betina menyusui anaknya dengan memanfaatkan
keberadaan kelenjar tersebut. Walaupun mamalia jantan tidak menyusui anaknya,
bukan berarti mereka tidak memiliki kelenjar mamae. Semua mamalia memiliki
kelenjar mamae , tetapi pada mamalia jantan kelenjar ini tidaklah berfungsi
sebagaimana pada mamalia betina. Seperti telah dikatakan sebelumnya bahwa
mamalia merupakan tingkatan tertinggi pada kerajaan hewan. Hal ini
mengakibatkan segala proses yang dilakukan oleh mamalia lebih tinggi daripada
jenis animalia lainnya. Mulai dari sistem pencernaan , pernafasan , peredaran
darah , urogenital , hingga sistem syarafnya. Oleh karena itu perlulah kita
mengetahui tentang karakteristik, struktur tubuh, cara hidup, dan habitat dari
class mamalia beserta peranannya dalam kehidupan manusia guna menunjang
pengetahuan kita.
B.
Klasifikasi Hewan Mamalia
Taksonomi mamalia dijelaskan sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Sub-Kingdom : Metazoa
Filum : Chordata
Sub-Filum : Vertebrata
Kelas : Mamalia
Berdasarkan ukurannya, mamalia dibagi menjadi dua, yakni mamalia besar dan mamalia kecil. International Biological Program mendefinisikan mamalia besar sebagai jenis-jenis mamalia yang memiliki ukuran berat badan dewasa > 5Kg, sedangkan mamalia kecil dengan ukuran berat badan dewasa < 5Kg. Jenis-jenis mamalia besar, dicontohkan sebagai berikut: rusa, harimau, dan kerbau air. Mamalia kecil, antara lain tikus, bajing, dan kelelawar.
Dalam pemanfaatan waktu aktivitas, mamalia dibagi menjadi mamalia diurnal dan mamalia nokturnal. Mamalia diurnal merupakan jenis-jenis mamalia yang melakukan aktivitasnya pada pagi dan sore hari, seperti orangutan, rusa, dan beberapa jenis bajing. Mamalia nokturnal merupakan jenis-jenis mamalia yang melakukan aktivitasnya mulai menjelang malam hari hingga menjelang pagi hari, seperti kelelawar, tenggalung malaya, serta musang. Selain itu, terdapat juga jenis-jenis yang beraktivitas sepanjang hari seperti babi hutan.
Berdasarkan habitatnya, mamalia dapat dibedakan menjadi dua, yakni mamalia darat dan mamalia laut. Mamalia darat merupakan mamalia yang sebagian besar aktivitasnya dilakukan di darat, sedangkan mamalia laut melakukan aktivitasnya sebagian besar di laut. Contoh dari mamalia darat, yakni monyet-ekor panjang, macan tutul, tikus, serta kuda. Mamalia laut, antara lain pesut, dugong, dan paus.
Dalam pemanfaatan strata tegakan hutan, mamalia diklasifikasikan menjadi dua, yakni mamalia arboreal dan mamalia terestrial. Mamalia arboreal merupakan jenis-jenis mamalia yang banyak menghabiskan waktu aktivitasnya pada strata yang tinggi, sedangkan mamalia terestrial merupakan jenis-jenis mamalia yang menghabiskan waktu aktivitasnya pada lantai hutan atau strata terbawah. Soerianegara dan Indrawan (2002) membagi strata tegakan dalam ekologi hutan, adalah sebagai berikut: strata A (> 30m), strata B (20-30m), strata C (4-20m), strata D (1-4m) dan strata E (0-1m). Jenis-jenis yang merupakan mamalia arboreal, antara lain monyet, kelelawar, bajing, serta beberapa jenis dari suku Felidae (Payne et al. 2000). Bagi jenis-jenis mamalia terestrial, antara lain kijang, gajah, dan badak.
Pada bagian dibawah ini, akan coba dijelaskan sedikit mengenai ordo-ordo dari kelas mamalia.
Binatang menyusui atau mamalia adalah kelas hewan vertebrata yang terutama dicirikan oleh adanya kelenjar susu, yang pada betina menghasilkan susu sebagai sumber makanan anaknya; adanya rambut; dan tubuh yang endoterm atau “berdarah panas”. Otak mengatur sistem peredaran darah, termasuk jantung yang beruang empat. Mamalia terdiri lebih dari 5.000 genus, yang tersebar dalam 425 keluarga dan hingga 46 ordo, meskipun hal ini tergantung klasifikasi ilmiah yang dipakai.
Sebagian besar mamalia melahirkan keturunannya, tapi ada beberapa mamalia yang tergolong ke dalam monotremata yang bertelur. Kelahiran juga terjadi pada banyak spesies non-mamalia, seperti pada ikan guppy dan hiu martil; karenanya melahirkan bukan dianggap sebagai ciri khusus mamalia
Evolusi mamalia yang paling awal belangsung mulai beberapa jalur yang berbeda. Dari kelompok tersebut hanya tiga yang sampai sekarang masih hidup, yaitu:
1. Monotremata, mamalia yang bertelur (sub kelas Prototheria)
2. Marsupiala, mamalia berkanting (sub kelas Metatheria)
3. Mamalia berplasenta (sub kelas Eutheria)
Taksonomi mamalia dijelaskan sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Sub-Kingdom : Metazoa
Filum : Chordata
Sub-Filum : Vertebrata
Kelas : Mamalia
Berdasarkan ukurannya, mamalia dibagi menjadi dua, yakni mamalia besar dan mamalia kecil. International Biological Program mendefinisikan mamalia besar sebagai jenis-jenis mamalia yang memiliki ukuran berat badan dewasa > 5Kg, sedangkan mamalia kecil dengan ukuran berat badan dewasa < 5Kg. Jenis-jenis mamalia besar, dicontohkan sebagai berikut: rusa, harimau, dan kerbau air. Mamalia kecil, antara lain tikus, bajing, dan kelelawar.
Dalam pemanfaatan waktu aktivitas, mamalia dibagi menjadi mamalia diurnal dan mamalia nokturnal. Mamalia diurnal merupakan jenis-jenis mamalia yang melakukan aktivitasnya pada pagi dan sore hari, seperti orangutan, rusa, dan beberapa jenis bajing. Mamalia nokturnal merupakan jenis-jenis mamalia yang melakukan aktivitasnya mulai menjelang malam hari hingga menjelang pagi hari, seperti kelelawar, tenggalung malaya, serta musang. Selain itu, terdapat juga jenis-jenis yang beraktivitas sepanjang hari seperti babi hutan.
Berdasarkan habitatnya, mamalia dapat dibedakan menjadi dua, yakni mamalia darat dan mamalia laut. Mamalia darat merupakan mamalia yang sebagian besar aktivitasnya dilakukan di darat, sedangkan mamalia laut melakukan aktivitasnya sebagian besar di laut. Contoh dari mamalia darat, yakni monyet-ekor panjang, macan tutul, tikus, serta kuda. Mamalia laut, antara lain pesut, dugong, dan paus.
Dalam pemanfaatan strata tegakan hutan, mamalia diklasifikasikan menjadi dua, yakni mamalia arboreal dan mamalia terestrial. Mamalia arboreal merupakan jenis-jenis mamalia yang banyak menghabiskan waktu aktivitasnya pada strata yang tinggi, sedangkan mamalia terestrial merupakan jenis-jenis mamalia yang menghabiskan waktu aktivitasnya pada lantai hutan atau strata terbawah. Soerianegara dan Indrawan (2002) membagi strata tegakan dalam ekologi hutan, adalah sebagai berikut: strata A (> 30m), strata B (20-30m), strata C (4-20m), strata D (1-4m) dan strata E (0-1m). Jenis-jenis yang merupakan mamalia arboreal, antara lain monyet, kelelawar, bajing, serta beberapa jenis dari suku Felidae (Payne et al. 2000). Bagi jenis-jenis mamalia terestrial, antara lain kijang, gajah, dan badak.
Pada bagian dibawah ini, akan coba dijelaskan sedikit mengenai ordo-ordo dari kelas mamalia.
Binatang menyusui atau mamalia adalah kelas hewan vertebrata yang terutama dicirikan oleh adanya kelenjar susu, yang pada betina menghasilkan susu sebagai sumber makanan anaknya; adanya rambut; dan tubuh yang endoterm atau “berdarah panas”. Otak mengatur sistem peredaran darah, termasuk jantung yang beruang empat. Mamalia terdiri lebih dari 5.000 genus, yang tersebar dalam 425 keluarga dan hingga 46 ordo, meskipun hal ini tergantung klasifikasi ilmiah yang dipakai.
Sebagian besar mamalia melahirkan keturunannya, tapi ada beberapa mamalia yang tergolong ke dalam monotremata yang bertelur. Kelahiran juga terjadi pada banyak spesies non-mamalia, seperti pada ikan guppy dan hiu martil; karenanya melahirkan bukan dianggap sebagai ciri khusus mamalia
Evolusi mamalia yang paling awal belangsung mulai beberapa jalur yang berbeda. Dari kelompok tersebut hanya tiga yang sampai sekarang masih hidup, yaitu:
1. Monotremata, mamalia yang bertelur (sub kelas Prototheria)
2. Marsupiala, mamalia berkanting (sub kelas Metatheria)
3. Mamalia berplasenta (sub kelas Eutheria)
BAB
III
HASIL
3.1
INVERTEBRATA
3.1.2
Hasil Deskripsi Invertebrata
a. Arthropoda
·
Arthropoda ( belalang )
Ø Deskripsi
bagian kepala spesies ini memiliki dua mata, dua antena, satu mulut, dua kaki
di kepala
Ø Deskripsi
bagian badan spesies ini empat kaki pada bagian badan, empat sayap ( dua
disebelah kiri dan dua disebelah kanan )
Ø Deskripsi
bagian ekor spesies ini memiliki satu lubang anus pada bagian ekor dengan warna
coklat keputihan

Gambar 3.1.2.1 Hasil Deskripsi
Invertebrata belalang
·
Arthropoda ( laba – laba )
Ø Deskripsi
bagian kepala spesies ini memiliki dua mata, satu mulut, dua antena dengan
ujungg antena memiliki bulu – bulu halus
Ø Deskripsi
bagian badan spesies ini memiliki delapan kaki ( empat disebelah kiri dan empat
disebelah kanan ) dengan ujung – ujung kaki terdapat bulu – bulu halus
Ø Deskripsi
bagian ekor tidak menampakan apa – apa

Gambar 3.1.2.2 Hasil Deskripsi
Invertebrata laba - laba
·
Arthtropoda ( semut )
Ø Deskripsi
bagian kepala spesies ini memiliki dua mata, dua antena dengan ujung – ujung
antena memiliki bulu – bulu halus , satu mulut
Ø Deskripsi
bagian badan spesies ini memiliki delapan kaki ( empat disebelah kanan empat
disebelah kiri ) dengan ujung – ujung
kaki memiliki bulu – bulu halus
Ø Memiliki
bentuk ekor berbentuk seperti tabung, memiliki satu anus

Gambar 3.1.2.3 Hasil Deskripsi
Invertebrata semut
· Arthtropoda ( ular
cincin )
Ø Deskripsi
bagian kepala spesies ini memiliki dua antena atas, empat antena bawah, satu
mulut, dua mata, tiga ruas
Ø Deskripsi
bagian badan delapan puluh delapan
pasang kaki, empat puluh empat ruas badan
Ø Deskripsi
bagian ekor memiliki dua ruas, satu lubang anus

Gambar 3.1.2.4 Hasil Deskripsi
Invertebrata ular cincin
· Arthropoda ( kutu anjing )
Ø Deskripsi bagian kepala
spesies ini memiliki dua antena, dua mata, satu mulut
Ø Deskripsi bagian badan spesies ini memiliki
empat kaki
Ø Deskripsi bagian ekor tidak menampakan apa –
apa

Gambar 3.1.2.5 Hasil Deskripsi
Invertebrata kutu anjing
· Arthropoda
( kupu – kupu )
Ø Deskripsi
bagian kepala spesies ini memiliki dua antena, dua mata, satu mulut
Ø Deskripsi
bagian badan spesies ini memiliki empat kaki, dua sayap, panjang sayap kiri dan
kanan 3,3 cm
Ø Deskripsi
bagian ekor spesies ini memiliki satu lubang anus

Gambar 3.1.2.6 Hasil Deskripsi
Invertebrata kupu - kupu
·
Arthropoda ( kalajenking )
Ø Deskripsi
bagian kepala spesies ini memiliki dua capit, dua mata, satu mulut
Ø Deskripsi
bagian badan spesies ini memiliki lima kaki kiri dan lima kaki kanan.
Ø Deskripsi
bagian ekor spesies ini memiliki ujung ekor berwarna putih bening

Gambar 3.1.2.7 Hasil Deskripsi
Invertebrata kalajengking
b.
Echinodermata
·
Echinodermata ( bintang laut )
Ø Deskripsi
bagaian kepala spesies ini memiliki satu mulut
Ø Deskripsi
bagian badan spesies ini memiliki satu badan, mempunyai lima tentakel yang
membentuk segilima, mempunyai panjang tentakel 9,5 cm
Ø Deskripsi
bagian ekor tidak menampakan apa – apa

Gambar 3.1.2.8 Hasil Deskripsi
Invertebrata bintang laut
·
Echinodermata ( bintang ular )
Ø Deskripsi
bagian kepala spesies ini memiliki satu mulut, satu badan
Ø Deskripsi
bagian badan spesies ini memiliki lima tentakel beserta dengan kaki semunya,
membentuk seperti segilima, kaki semu pada spesies ini mampu menyerap air dan
digunakan untuk menyerang mangsanya
Ø Deskripsi
bagian ekor tidak menampakan apa – apa

Gambar 3.1.2.9 Hasil Deskripsi
Invertebrata bintang ular
·
Echinodermata ( duri babi )
Ø Deskripsi
bagian kepala tidak menampakan apa
Ø Deskripsi
bagian badan spesies ini memiliki satu badan dan mempunyai duri / spine, pada
mulut spesies ini mempunyai mulut dibagian ventral dan anus di bagian ekor
Ø Deskripsi
bagian ekor tidak menampakan apa – apa

Gambar
3.1.2.10 Hasil Deskripsi Invertebrata duri babi
·
Echinodermata ( lili laut )
Ø Deskripsi
bagian kepala tidak menampakan apa – apa
Ø Deskripsi
bagian badan spesies ini hanya memilik satu badan dengan menyerupai cabang –
cabang dan memiliki mulut disepanjang spesies
Ø Deskripasi
bagian ekor tidak menampakan apa – apa

Gambar
3.1.2.11 Hasil Deskripsi Invertebrata lili laut
·
Echinodermata ( taripang )
Ø Deskripsi
bagian kepala tidak menampakan apa – apa
Ø Deskripsi
bagian badan spesies ini memiliki satu
mulut dan satu anus dengan warna coklat bintik – bintik hitam, memiliki panjang
22,5 cm dan lebar 12 cm
Ø Deskripasi
bagian ekor tidak menampakan apa – apa

Gambar
3.1.2.12 Hasil Deskripsi Invertebrata taripang
c. Brachiopoda
·
Brachiopoda ( atypa )
Ø Memiliki
bentuk kamar berbentuk ceper seperti tempurung ( elips ), memiliki aperture
satu, jumlah kamar ventral dan dorsal satu, jumlah putaran bagian ventral
delapan dan dorsal delapan, hiasan pada punggung fosil ini mempunyai garis –
garis berwarna putih kecoklatan, dengan
komposisi mengandung CaCO3

Gambar 3.1.2.13 Hasil
Deskripsi Invertebrata atypa
·
Brachiopoda ( platyrachella )
Ø Memiliki
bentuk kamar berbentuk seperti mangkuk, memiliki aperture satu, jumlah kamar
ventral dan dorsal satu, jumlah putaran bagian ventral enambelas dan dorsal
tiga puluh satu, hiasan pada punggung fosil ini mempunyai garis – garis kasar
dengan warna putih dan bintik – bintik merah, dengan komposisi mengandung CaCO3

Gambar 3.1.2.14 Hasil Deskripsi
Invertebrata platyrachella
·
Brachiopoda ( lepidocylus )
Ø Memiliki
bentuk kamar elips menajam, memiliki aperture satu, jumlah kamar ventral dan
dorsal satu, jumlah putaran bagian ventral dua puluh satu dan dorsal empat
puluh, hiasan pada punggung fosil ini mempunyai garis – garis melengkung,
dengan komposisi mengandung CaCO3

Gambar 3.1.2.15 Hasil Deskripsi
Invertebrata lepidocylus
·
Brachiopoda ( coposita )
Ø Memiliki
bentuk kamar elips memanjang, memiliki aperture satu, jumlah kamar ventral dan
dorsal satu, jumlah putaran bagian ventral empat dan dorsal tidak ada, hiasan
pada punggung fosil ini mempunyai garis – garis memanjang dengan warna abu –
abu keputihan, dengan komposisi mengandung CaCO3

Gambar 3.1.2.16 Hasil Deskripsi
Invertebrata coposita
·
Brachiopoda ( panope )
Ø Memiliki
bentuk kamar elips memanjang, memiliki aperture satu, jumlah kamar ventral dan
dorsal satu, jumlah putaran bagian ventral tiga puluh dua dan dorsal dua puluh
lapan, hiasan pada punggung fosil ini mempunyai garis – garis memanjang dengan
warna putih kekuningan, dengan komposisi mengandung CaCO3

Gambar 3.1.2.17 Hasil Deskripsi Invertebrata panope
d. molluca
·
Mollusca ( cypraedia )
Ø Memiliki
bentuk kamar elips, memiliki aperture satu, jumlah kamar ventral dan dorsal
satu, jumlah putaran bagian ventral tidak ada dan dorsal dua, hiasan pada
punggung fosil ini mempunyai garis berwarna hitam kecoklatan, dengan komposisi
mengandung CaCO3

Gambar 3.1.2.18 Hasil Deskripsi
Invertebrata cypraedia
·
Mollusca ( sycostoma )
Ø Memiliki
bentuk kamar elips memanjang, memiliki aperture satu, jumlah kamar ventral dan
dorsal satu, jumlah putaran bagian ventral tujuh dan dorsal lima belas, hiasan
pada punggung fosil ini mempunyai garis berwarna hitam kecoklatan, dengan
komposisi mengandung CaCO3

Gambar
3.1.2.19 Hasil Deskripsi Invertebrata sycostoma
·
Mollusca ( conus )
Ø Memiliki
bentuk kamar elips, memiliki aperture satu, jumlah kamar ventral dan dorsal
satu, jumlah putaran bagian ventral tidak ada dan dorsal dua, hiasan pada
punggung fosil ini mempunyai garis berwarna merah dan warna pungun hitam
keputihana, dengan komposisi mengandung CaCO3

Gambar
3.1.2.20 Hasil Deskripsi Invertebrata conus
·
Mollusca ( solariella )
Ø Memiliki
bentuk kamar membundar, memiliki aperture satu, jumlah kamar ventral dan dorsal
satu, jumlah putaran bagian ventral sembilan dan dorsal Sembilan belas, hiasan
pada punggung fosil ini mempunyai garis berwarna putih dengan coklat dan
kekuningan, dengan komposisi mengandung CaCO3

Gambar
3.1.2.21 Hasil Deskripsi Invertebrata solariella
·
Mollusca ( caricella )
Ø Memiliki
bentuk kamar elips, memiliki aperture satu, jumlah kamar ventral dan dorsal
satu, jumlah putaran bagian ventral
delapan dan dorsal dua belas, hiasan pada punggung fosil ini mempunyai
warna hitam putih kekuningan, dengan komposisi mengandung CaCO3

Gambar 3.1.2.22 Hasil Deskripsi
Invertebrata caricella
e. Coelenterata
·
coelenterata ( porites )
Ø Memiliki
bentuk kamar bercabang - cabang, memiliki aperture primeri, jumlah kamar
ventral dan dorsal banyak, jumlah putaran bagian ventral dan dorsal tidak ada,
hiasan pada punggung fosil ini memiliki pori – pori pada setiap cabang, dengan
komposisi mengandung CaCO3

Gambar
3.1.2.23 Hasil Deskripsi Invertebrata porites
·
coelenterata ( alprola )
Ø Memiliki
bentuk kamar meruncing dan bercabang - cabang, memiliki aperture primeri,
jumlah kamar ventral dan dorsal banyak, jumlah putaran bagian ventral dan
dorsal tidak ada, hiasan pada punggung fosil ini memiliki pori – pori pada
setiap cabang, dengan komposisi mengandung CaCO3

Gambar
3.1.2.24 Hasil Deskripsi Invertebrata alphora
·
coelenterata ( acropora )
Ø Memiliki
bentuk kamar bercabang - cabang, memiliki aperture primeri, jumlah kamar
ventral dan dorsal banyak, jumlah putaran bagian ventral dan dorsal tidak ada,
hiasan pada punggung fosil ini memiliki warna coklat keputihan dan pori – pori
pada setiap cabang, dengan komposisi mengandung CaCO3

Gambar
3.1.2.25 Hasil Deskripsi Invertebrata acropora
·
coelenterata ( haimesiastraea )
Ø Memiliki
bentuk kamar meruncing, memiliki aperture primeri, jumlah kamar ventral dan
dorsal banyak, jumlah putaran bagian ventral dan dorsal tidak ada, hiasan pada
punggung fosil ini memiliki pori – pori berwarna keputihan, dengan komposisi
mengandung CaCO3

Gambar
3.1.2.26 Hasil Deskripsi Invertebrata haimesiastraea
·
coelenterata ( favosites )
Ø Memiliki
bentuk kamar berbentuk tabung, memiliki aperture primeri, jumlah kamar ventral
dan dorsal banyak, jumlah putaran bagian ventral dan dorsal tidak ada, hiasan
pada punggung fosil ini bebrbentuk tabung dengan warna kemerahan, dengan
komposisi mengandung CaCO3

Gambar
3.1.2.27 Hasil Deskripsi Invertebrata favosites
3.2 VERTEBRATA
3.2.1 Hasil Deskripsi Vertebrata
a.
Identifikasi
Pisces
·
Pisces ( ikan kepala tima )
Ø Deskripsi
bagian kepala spesies ini memiliki dua mata, satu mulut, dua insang satu di
sebelah kiri dan yang satu lagi di sebelah kanan
Ø Deskripsi
bagian badan spesies ini memiliki dua sirip bagian kiri dan kanan, memiliki lubang anus di bagian perut
Ø Deskripsi
bagian ekor spesies ini memiliki satu ekor

Gambar
3.1.2.28 Hasil Deskripsi vertebrata ikan kepala timah
·
Pisces ( ikan baju kaos )
Ø Deskripsi
bagian kepala spesies ini memiliki dua mata, satu mulut dengan corak hitam
kemerahan,memiliki insang
Ø Deskripsi
bagian badan spesies ini memiliki empat sirip dua sirip bagian bawah dan dua
sirip bagian atas, memiliki lubang
anus di bagian perut
Ø Deskripsi
bagian ekor spesies ini memiliki sirip ekor bercabang

Gambar
3.1.2.29 Hasil Deskripsi vertebrata ikan baju kaos
b.
Identifikasi reptile
·
Reptile ( cicak)
Ø Deskripsi
bagian kepala spesies ini memiliki dua mata, satu mulut
Ø Deskripsi
bagian badan spesies ini memiliki dua kaki dengan lima jari kiri dan lima jari
kanan, memiliki dua tangan dengan lima jari kiri dan kanan.
Ø Deskripsi
bagian ekor spesies ini memiliki sisik – sisik dengan warna coklat kemerahan

Gambar
3.1.2.30 Hasil Deskripsi vertebrata cicak
·
Reptile ( ular tanah)
Ø Deskripsi
bagian kepala spesies ini memiliki dua mata, satu mulut dikelilingi oleh sisik
- sisik
Ø Deskripsi
bagian badan spesies ini memiliki sisik dengan warna coklat hitam dan keputihan
Ø Deskripsi
bagian ekor spesies ini memiliki sisik – sisik dengan warna coklat dan hitam

Gambar
3.1.2.31 Hasil Deskripsi vertebrata ular tanah
·
Reptile
( kodok )
Ø Deskripsi
bagian kepala spesies ini memiliki dua mata, satu mulut
Ø Deskripsi
bagian badan spesies ini memiliki dua tangan dengan empat jari kiri dan kanan,
dua kaki dengan lima jari kanan dan lima jari kiri
Ø Deskripsi
bagian ekor spesies ini memiliki satu anus

Gambar
3.1.2.32 Hasil Deskripsi vertebrata kodok
c.
Identifikasi
Aves
Aves
( Burung Gereja )
Ø Deskripsi bagian kepala spesies ini memiliki
dua mata, satu mulut, dikelilingi bulu – bulu halus dengan warna coklat
kehitaman, satu leher, satu hidung
Ø Deskripsi
bagian badan spesies ini memiliki satu sayap kiri besar dan satu sayap kanan
besar, tiga belas sayap kecil bagian kiri dan kanan, dua kaki dengan empat jari
kiri dan kanan.
Ø Deskripsi
bagian ekor spesies ini memiliki satu lubang anus, satu ekor berbentuk cabang
dua

Gambar
3.1.2.33 Hasil Deskripsi vertebrata burung gereja
d.
Identifikasi
Mamalia
Mamalia
( anjing )
Ø Deskripsi
bagian kepala spesies ini memiliki dua mata, satu mulut, satu hidung, dua mata,
dua telinga, memiliki bulu panjang di bagian mulut dan hidung
Ø Deskripsi
bagian badan spesies ini memiliki dua tangan, dan mempunyai 4 jari bagian kiri
dan kanan, dua kaki dengan empat jari kiri dan kanan, memiliki satu kelamin.
Ø Deskripsi
bagian ekor spesies ini memiliki satu lubang anus, satu ekor yang memanjang dan
memiliki bulu halus pada bagian ekor.

Gambar
3.1.2.35 Hasil Deskripsi vertebrata anjing
BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Dari
praktikum diatas dapat di simpulkan bahwa
Invertebrata adalah
organisme yang paling berlimpah di bumi. Mereka menempati hampir semua habitat,
mereka dapat ditemukan merayap, terbang, berenang atau mengambang. Invertebrata
adalah hewan tanpa tulang punggung. Hewan ini tidak memiliki kerangka internal
yang terbuat dari tulang. Invertebrata memainkan peran penting dalam ekosistem
bumi.
Vertebrata adalah subfilum dari Chordata,
mencakup semua hewan yang memiliki tulang belakang
yang tersusun dari vertebra. Vertebrata adalah subfilum terbesar dari Chordata.
Ke dalam vertebrata dapat dimasukkan semua jenis ikan (kecuali remang,
belut jeung, "lintah laut", atau hagfish), amfibia,
reptil,
burung,
serta hewan menyusui. Kecuali jenis-jenis ikan,
vertebrata diketahui memiliki dua pasang tungkai.Vertebrata
memiliki sistem otot
yang banyak terdiri dari pasangan massa, dan juga sistem saraf pusat yang biasanya terletak di
dalam tulang belakang. Sistem respirasi
menggunakan insang
atau paru-paru.
DAFTAR PUSTAKA
Materi paleontology, Teknik Geologi
Unipa, 2015
LAMPIRAN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar